(I DID)

sungguh berat sejujurnya untuk memulai menulis kembali, selalu banyak pertimbangan untuk kembali memulai. mulai dari bahasa penulisan bergaya seperti apa hingga isi nya sepertyi apa. Seringnya saya malu untuk memulai, meskipun sudah ada ide seperti apa.
rasa malu dikarenakan dialog di kepala seperti "pantaskah tulisan saya", "haruskah saya menuliskannya" hingga akhirnya tulisan itu gagal untuk ditulis.
sebenarnya sudah lama saya menulis, semasa kuliah pernah menjadi bagian dari reporter kampus dan melalui tulisan saya juga berkesempatan untuk mengunjungi Bandung, selain itu juga berkesempatan dua kali untuk dicetak dalam buku. Selain tulisan "serius", sering juga menulis diari dan seiring bertambahnya usia tulisan itu semakin sedikit kuantitasnya. jaman - jaman SMP SMA dulu tulisan bisa sangat detail beserta bahasa-bahasa alay nya --" semakin kesini yang tersisa untuk di baca dalam buku diari hanya sebait kata positif.
And i know it why. karena saya tidak ingin menuliskan kebencian dan hal-hal negatif lain nya. bagi saya dengan menulis it's like sharpen your memory dan itu tidak sehat untuk psikis saya. lantas saya memutuskan untuk tidak menuliskan nya secara detail. 
Faktanya, ketika sebuah kesedihan dan kemarahan di tuliskan akan menjadi terapi yang baik untuk menetralkan emosi-emosi tersebut. I KNOW but not in my diary book. Karena tulisan yang berisi emosi negatif tersebut harus d buang jauh-jauh  (gak mungkin kan aku robek melulu buku diari nya). Jadi aku hanya menuliskan kata-kata positif, hal-hal baik yang dapat aku pelajari setelah kejadian tersebut terjadi. Dan, yaaahhh dalam beberapa tulisan saya benar-benar ;upa kejadian apa yang ada di belakang tulisan tersebut. Tetapi hal baiknya ialah when i was down that sentence has a magic power. membaca ulang tulisan itu seakan jadi pengingat "dulu aku juga pernah kayak gitu dan i am okay, i can threw it up" it's like reminder, seperti tulisan ini:
Lakukan saja lantas kau akan mengerti
tidak peduli seberapa sulit otak mu memahami saat ini 
tidak peduli seberapa berat hati mu menerka 
semua terjadi karena Tuhan
lantas
biarkan Tuhan pula yang mengatur waktu terbaikNya
LAKUKAN SAJA 
(Fauzanin Nuryakin 01-09-2016  H-1 sebelum sidang Skripsi)
So, tulis aja! kita juga g tau kan pada saat nulis bakal bermanfaat buat saat ini
JUST DO IT

Komentar